Sabtu, 05 Mei 2018

Makalah Aspek Ibadah, Latihan Spiritual dan Ajaran Moral dalam Islam (Studi Islam)


PEMBAHASAN

1.      Pengertian Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
1.      Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
2.      Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
3.      Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Secara umum ibadah berarti mencakup semua perilaku-perilaku dalam semua aspek kehidupan. Yang dilakukan dengan ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah SWT.[1]
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58]
Menurut makna umum, ibadah adalah segala sesuatu yang disukai dan diridhai Allah Swt, baik ibadah tersebut berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang terang (eksplisit) maupun yang tersirat (implisit).




2.      Tujuan Ibadah
Untuk mendekatkan diri kepada dan mencari ridha Allah. Tujuan lain dari ibadah adalah ketakwaan hati. Ketakwaan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang dilarang oleh Allah SWT. Adapun tujuan dari shalat, zakat, puasa, haji:
Shalat
Kita semua tahu bahwa solat adalah hubungan hamba dengan tuhannya, tapi apa tujuan dan hasil yang diberikan oleh solat?
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ -٤٥
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (Al-Ankabut 45)
Tujuan dari solat adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Artinya, solat ingin membawa manusia menjadi orang yang berakhlak dan terhindar dari perbuatan yang dzolim dan keji.
Zakat
Allah berfirman,
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا -١٠٣-
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (At-Taubah 103)
Tujuan utama dari zakat adalah membersihkan dan mensucikan pemiliknya atau biasa disebut Tazkiyah. Yaitu mensucikan dari jiwa yang kikir dan tamak untuk menjadi jiwa yang penuh dengan belas kasih.
Puasa
Berkaitan dengan tujuan puasa, teringat kisah tentang seorang wanita yang ahli ibadah dan selalu berpuasa. Seorang sahabat memuji ibadah wanita ini dihadapan Rasulullah saw, lalu ia berkata bahwa di sisi lain wanita ini sering menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah hanya berkomentar, “Dia di neraka.”
Seluruh ritual ibadah tidak akan berarti tanpa akhlak dan budi pekerti yang baik. Bukankah Rasulullah juga pernah bersabda,
“Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.”
Kenapa puasa mereka tidak diterima? Karena mereka berpuasa tanpa berakhlak. Mereka hanya menahan lapar dan haus tanpa menahan anggota badan yang lain dari perbuatan yang buruk.


Haji
Allah jelaskan dalam Al-Qur’an tentang larangan dalam ibadah haji adalah,
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ -١٩٧-
 (Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah diketahui. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. (Al-Baqarah 197)
Ayat ini dengan jelas menggambarkan bahwa tujuan dari haji adalah membiasakan diri untuk berakhlak dan tidak menyakiti orang lain. Membiasakan diri untuk menahan dari berkata jorok, berbuat maksiat dan bertengkar dengan orang lain.
Jika seluruh tujuan dari ibadah-ibadah utama dalam islam ini adalah mengantarkan seseorang kepada akhlak, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak berakhlak. Tidak ada alasan lagi untuk berlaku kasar terhadap sesama manusia.
3.Aspek Ibadah
Sebenarnya ibadah mencakup setiap aspek kehidupan manusia sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam. Itulah yang kita amalkan dalam hidup kita sehari-hari asalkan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah. Allah menginginkan segala yang kita lakukan dalam hidup menjadi ibadah, yaitu cara kita berpakaian, cara kita mengatur rumah tangga, bentuk perjuangan kita, pergaulan kita, percakapan dan perbincangan kita, semuanya menjadi ibadah, sekalipun kita berdiam diri juga dapat berbentuk ibadah. Di samping itu aspek-aspek lain seperti pendidikan dan pelajaran, perekonomian dan cara-cara menjalankan ekonomi, soal-soal kenegaraan dan perhubungan antar bangsa pun, semua itu perlu menjadi ibadah kita kepada Allah. Itulah yang dikatakan ibadah dalam seluruh kehidupan kita baik yang lahir maupun yang batin.


Corak – corak ibadah untuk uraian lebih lanjut mengenai ibadah agar dapat kita fahami lebih luas dan sesuai dengan tuntutan syariat Islam, maka di sini diuraikan tiga peringkat ibadah yang mencakup aspek kehidupan kita.

1. Ibadah asas
2. Ibadah cabang-cabang
3. Ibadah yang lebih umum

1. Ibadah asas

Ibadah yang asas merangkum soal-soal akidah dan keyakinan kita kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari pembalasan, ketentuan dan ketetapan Allah baik ataupun buruk. Itulah yang kita sebut rukun iman. Termasuk dalam uraian ibadah yang asas itu ialah rukun Islam yaitu syahadat, shalat lima waktu, puasa, zakat fitrah dan rukun haji (bagi mereka yang mampu). Kedua bentuk ibadah yang asas itu yaitu rukun iman dan rukun Islam adalah wajib ain atau fardhu ain bagi setiap muallaf. Berarti sebelum kita dapat melaksanakan ibadah-ibadah yang lain, kedua perkara itu perlu ada pada diri kita dan telah dapat kita tanamkan dalam jiwa kita.

2. Ibadah Cabang
Adapun ibadah yang menjadi cabang-cabang dari ibadah asas tadi yaitu yang bertalian erat dengan asas meliputi perkara mentajhizkan (menyelenggarakan) jenazah, menegakkan jihad, membangun gelanggang pendidikan dan pelajaran atau mewujudkan perancangan ekonomi Islam seperti mewujudkan perusahaan-perusahaan asas yang melayani keperluan umat Islam. Termasuklah di dalamnya perusahaan yang dapat menghasilkan makanan wajib seperti gula, tepung, garam, kecap dan perusahaan minuman seperti susu, kopi, teh dan bentuk-bentuk minuman ringan lainnya. Selain dari itu di dalam bidang tersebut, termasuk juga penggalakan usaha-usaha pertanian yang akan menghasilkan beberapa makanan asas bagi umat Islam seperti beras, gandum, ubi dsb. serta perikanan yang dapat menghasilkan ikan basah atau ikan kering. Kalau kita tilik dari satu sudut, pasti kita akan merasakan bahwa hal itu merupakan persoalan asas dalam perjuangan kita menegakkan ibadah kepada Allah. Tentulah kita tidak mau darah daging kita berasal dari zat yang bertentangan dengan syariat Allah, yang pasti bisa merusak ibadah asas kita.
Dalam menegakkan bentuk pendidikan dan pelajaran, kita semestinya menitikberatkan hasil mutlak dari acuan pendidikan kita pada jiwa anak-anak yang dibina mulai dari peringkat taman kanak-kanak, sekolah menengah sampai universitas. Sehingga lulusannya nanti dapat menyambung perjuangan menegakkan syariat Allah. Selain dari itu ibadah yang tergolong dalam cabang-cabang itu ialah membangun klinik dan rumah sakit Islam, soal-soal politik serta pembentukan dan penyusunan sistem organisasi dalam negara Islam.
Hal-hal yang termasuk dalam jenis ibadah yang kedua ini kita namakan fardhu kifayah. Kita tentu lebih maklum apa sebenarnya fardhu kifayah itu yaitu fardhu yang menitikberatkan pada soal kemasyarakatan Islam yang juga merupakan urat saraf dan nadi penghubung antara sesama Islam.
Hal itu sangat besar artinya untuk seluruh individu Islam karena bila tidak ada satu orang pun yang mengerjakannya maka seluruh masyarakat itu akan menerima beban dosa dari Allah. Namun seandainya ada satu pihak melaksanakan tuntutan fardhu tersebut, maka pihak itu telah melepaskan tanggungan dosa bagi seluruh masyarakat Islam. Karena itulah fardhu kifayah merupakan urat nadi penghubung antara sesama Islam. Cuma masyarakat Islam tidak memahami peranan fardhu kifayah tersebut, karena itu hubungan ukhuwah Islamiah tidak begitu menonjol di zaman sekarang. Seandainya fardhu kifayah itu dapat memberi makna, sudah pasti kita merasa bersyukur sekiranya ada di kalangan kita yang telah melepaskan tanggungan dosa umum dan sudah pasti kita akan memberikan dukungan kepadanya. Karena itu tidak akan ada istilah gagal dalam melaksanakan fardhu kifayah.
Kecil timbangannya tetapi besar maknanya. Itulah yang disebut sunah ain. Tergolong di dalamnya yaitu shalat sunat rawatib, shalat witir, shalat tahajud, shalat dhuha, puasa syawal, puasa Senin dan Kamis, bersedekah dan membaca Al Quran. Pelaksanaan ibadah itu mendatangkan pahala sedangkan jika tidak dilakukan tidak akan mendatangkan dosa. Namun karena ibadah itu memberikan manfaat maka lebih baik jika dikerjakan.

3. Ibadah Umum
Dan ibadah ketiga yaitu ibadah yang lebih umum yaitu hal-hal yang merupakan pelaksanaan mubah saja tetapi bisa menjadi ibadah dan mendatangkan pahala. Amalan seperti itu dapat menambah bakti kita kepada Allah agar setiap perbuatan dalam hidup kita ini tidak menjadi sia-sia. Tergolong dalam amalan-amalan itu seperti makan, minum, tidur, berjalan-jalan, berwisata dan sebagainya.

4.Latihan Spritual

Latihan penyempurnaan diri dilakukan dengan perilaku ritual keagamaan, seperti beribadah, tetapi tidak hanya beribadah melainkan juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan spiritual. Religiositas adalah kenyataan yang terjadi dalam sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Religiositas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan. mulai dari hubungan dengan masyarakat hingga hubungan dengan Allah SWT. Ada enam prinsip latihan spiritual yaitu:

A.    Ada banyak jalan menuju Tuhan sebanyak jumlah manusia yang ada 
Ketika menjalani latihan spiritual, sangatlah penting untuk menanamkan pemahaman bahwa setiap individu adalah berbeda sehingga apa yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain. Ketika sedang mendaki gunung, semua pendaki mengira jalannyalah satu satunya jalan. Tapi setelah dia sampai dipuncak gunung, baru dia menyadari tak terhitung jalan yang bisa dilalui untuk mencapai puncak. Begitu pula ada banyak jalan menuju Tuhan sebanyak jumlah manusia yang ada. 

B.     Berangkat dari banyak menuju satu 
Hasil dari usaha kita akan jauh lebih kuat apabila kita mengkonsentrasikan usaha kita pada satu daripada banyak. 
C.     Menigkat dari kasar (nyata) menuju ke halus (maya) 
Keadaan dasar yang kita perlukan untuk peningkatan terhadap latihan spiritual kita adalah dari melakukan latihan secara fisik menjadi ke tingkat yang lebih halus. 
Latihan spiritual yang halus lebih kuat dari yang kasar. Sebagai contoh, sebuah hubungan dimana dua orang berjabat tangan dalam pertemanan, sedangkan dalam kenyataannya, mereka tidak saling menyukai. Secara fisik seperti itu hanyalah memperlihatkan tampak luar saja. Sedangkan di lain pihak, dua orang bisa benar benar merasa berjabat tulus walaupun tanpa kontak fisik. Sama halnya ketika tiba saatnya pelatihan spiritualitas, tergerak hanya oleh persembahan ritual luaran (tingkat fisik) tanpa rasa bakti, dan ini harus dirubah menjadi suatu rasa yang benar benar tulus bakti kepada Tuhan atau dengan rasa keinginan yang kuat untuk pengembangan spiritual. 
D.    Melakukan latihan spiritual sesuai dengan tingkatan spiritual
Kita harus cek apakah latihan spiritual yang kita pilih sudah sesuai dengan kapasitas spiritual atau tingkat spiritual kita. Seorang murid yang telah naik kelas dari kelas 3, tidak akan mampu menyelesaikan ujian kelas 4, jika murid tersebut terus terus-an hanya mempelajari kurikulum kelas 3. Jadi spiritualis juga tidak boleh diam pada satu tingkat spiritual, dan harus mencoba meningkatkan kemampuan untuk melakukan latihan spiritual. 
E.     Melakukan latihan spiritual sesuai dengan jaman
Segala kejadian dalam hidup ini, ada waktunya dia terjadi. Jika hal yang benar terjadi di waktu yang salah tidak akan mendapatkan hasil yang diinginkan. Contoh, jika benih di tanam bukan pada saat musim hujan melainkan saat musim kering, bagaimanapun suburnya tanah, dia tidak akan bisa tumbuh. Sama halnya, latihan spiritual tertentu akan kondusif tergantung waktu dan jaman
F.      Mempersembahkan kepada Tuhan sesuai bakat atau kemampuan 
Kita semua memiliki sumber diri yang sudah ditetapkan. Ini telah diberikan oleh Tuhan. Prinsip dasar dalam latihan spiritual adalah kita menggunakan sumber diri ini untuk melayaniNya sebagai jalan latihan spiritual dan meningkatkan spiritualitas kita. Sumber diri bisa dikategorikan menjadi empat:
1.      Tubuh kita 
2.      Kekayaan dan koneksi kita
3.      Pikiran dan intelek kita
4.      Indera keenam kita




5.Ajaran Moral dalam Islam

Dalam Islam, al-Qur’an misalnya menginginkan untuk menegakkan kehidupan masyarakat yang egaliter, baik sosial,politik dan sebagainya yang ditegakkan pada dasar-dasar etika. Hal tersebut dapat dilihat dari ayat-ayat yang menyiratkan tentang “memakmurkan bumi” atau “menjauhi kerusakan di dunia”. Juga dapat dilihat dari ayat tentang tugas manusia yang dinyatakan dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sampai di sini semakin jelalah akan adanya hubungan yang tak teroisakan antara nilai-nilai agama yang diinternalisakan kepada manusia dengan pendidikan agama dengan pendidikan moral.
Lima Nilai Moral islam dikenal pula sebagai Sepuluh Perintah Tuhan versi Islam. Perintah-perintah ini tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-An'aam 6:150-153 di mana Allah menyebutnya sebagai Jalan yang Lurus (Shirathal Mustaqim ):

1.      Katakanlah: "Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan yang kamu haramkan ini." Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,

2.      Berbuat baiklah terhadap kedua orang tua Ibu dan Bapak
3.      Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan
4.      Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji (homoseks, seks bebas dan incest), baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi.

5.      Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

6.      Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.
7.      Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.
8.      Dan apabila kamu bersaksi, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan

Amanah (Nilai Kejujuran)
9.      Penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,
10.  Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.





















PENUTUP
Kesimpulan
Ibadah merupakan salah satu hal yang penting bagi siapapun yang memeluk suatu agama. Dengan bertujuan mendekatkan diri kepada dan mencari ridha Allah. Latihan spiritual mempunyai enam prinsip yaitu Ada banyak jalan menuju Tuhan sebanyak jumlah manusia yang ada,  Berangkat dari banyak menuju satu, Menigkat dari kasar (nyata) menuju ke halus (maya), Melakukan latihan spiritual sesuai dengan tingkatan spiritual, Melakukan latihan spiritual sesuai dengan jaman, dan Mempersembahkan kepada Tuhan sesuai bakat atau kemampuan. Sedangkan ajaran moral mempunyai lima nilai moral yaitu, Tauhid (Nilai Pembebasan), Nikah (Nilai Keluarga), Hayat (Nilai Kemanusiaan), Adil (Nilai Keadilan), dan Amanah (Nilai Kejujuran).
















DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Harun, islam ditinjau dari berbagai aspeknya jilid 1,(Jakarta: UI Press, 1979).
Daradjat Zakiyah, dkk, dasar dasar agama islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).
Mahmud H., studi islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015).




[1] Prof.Dr. zakiyah darajat dkk, dasar dasar agama islam, (Jakarta : bulan bintang 1984) Hal 300

Makalah Mahkamah Syariah Aceh

BAB I PENDAHULUAN A.    Latar Belakang Masalah Aceh merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang diberikan istimewa oleh pemeri...